57 views
oleh

Psikologi Anak dari Seorang Janda Dalam Stigma Masyarakat

Penulis Artikel :

Siti Nur Indah Sari

Pokok Argumentasi :

Banyak stigma masyarakat yang memandang seorang janda dengan menyudutkan seolah status itu adalah sesuatu yang hina. Ironisnya, tidak hanya sebatas itu, anak pun ikut di sangkut pautkan dalam stigma dungu tersebut.

Seharusnya, masyarakat dapat lebih luas dalam mengartikan status janda ini, terlebih lagi jika menyangkut ke anak. Karena, anak memiliki ruang sendiri tanpa harus memikul beban dari masyarakat yang memandang sosok janda dengan sebelah mata, seolah-olah wanita yang memiliki status janda ditengah masyarakat adalah orang yang hina.

Gagasan Utama :

– Seorang janda jika bekerja dan pulang larut malam dianggap bekerja yang haram.

– Anak dari seorang janda yang dinilai, apa bila nanti mereka menikah maka akan bercerai seperti ibunya pula.

Tetangga Bisa Membunuh Mental Anak Mu! Benarkah?

Tidak dapat dipungkiri pun ditolak jika ada satu atau dua, bahkan lebih dari itu. Justifikasi norak masyarakat yang seolah menyudutkan status single mom atau janda. Namun, saat status itu disandangkan oleh seorag laki-laki atau sering disebut duda, sangatlah jarang terdengar stigma stigma jelek akan status singlenya mereka.

Bahkan, banyak kabar diluar sana yang mengecap janda adalah manusia yang hina (red).

Kebanyakan masyarakat persoalan status jandapun dikait-kaitkan dengan wanita yang akan merebut suami orang.

Tidak semua wanita yang mengemban status tersebut wanita nakal, bahkan wanita tidak boleh dipandang sebelah mata, selain itu, akal sadar masyarakat ketika terbesit dalam pikirannya soal status pekerjaan seorang janda.

Persoalan itupun dikaitkan dalam kegiatan mencari nafkah atau bekerja dengan cara haram, karena janda selalu mendapatkan cibiran sebagai sosok wanita yang ini lah itu lah.

Namun tidak kah satu saja diantara mereka (masyarakat) yang membuat stigma itu, menjelaskan bahwa, mereka pernah melihat langsung kegiatan si janda itu yang merebut suami orang, atau bekerja dengan cara yang haram dan hal-hal lain yang mereka cap untuk seorang janda itu. Ada? Lalu apakah salah jika stigma ini dibilang stigma masyarakat dungu?

Seharusnya masyarakat lebih bijak dalam bersikap baik dan memberikan dukungan moral, terlebih jika sudah menyangkut pautkan masalah anak.

Seorang pakar psikologi di Lampung, sekaligus dosen di IAIN Metro Lampung, Junaidi, M.Psi, psikolog mengatakan, Itulah masyarakat kita. Secara umum masyarakat menengah kebawah sering kali berpikir demikian, bahkan, bersikap sampai bertindak seperti itu, dan lebih mengedepankan hal yang negatif.

Padahal, kan belum tentu. Karena, setiap orang mempunyai alasan kenapa sampai berpisah, itu juga pasti sudah melalui proses yang panjang walaupun nantinya anak yang akan menjadi korban.

Yang harus disadari oleh orang tua yang memiliki anak dan mereka berpisah adalah berusaha melibatkan anak berdasarkan usia, misal kalau anaknya sudah usia remaja, tidak salah mengajak diskusi dan menjelaskan penyebab mereka berpisah itu kenapa.

Tapi, bila anak masih terlalu dini untuk diajak berdiskusi maka kedua orang tua harus bijak menjelaskan sesuai usia anak. Intinya adalah kedua orang tua ini harus paham bahwa perceraian juga bisa sampai memperburuk psikologis anak, jadi walaupun berpisah, ayah masih harus berkomunikasi dan berinteraksi dengan anaknya.

Kedua orang tua tetap menjadai sebagai sahabat bukan musuh, sebab harus diingat bila ada anak diantara mereka. Kalau menurut saya, single mom itu bukan hal yang negatif, asalkan si ibu bisa berperan dengan baik. Yang harus diingat oleh ibu, anak perlu figure pengganti ayah.

Bukan menggantikan status ayah yang lama lalu dicarikan yang baru, namun saat bercerai otomatis waktu ayah tidak lagi seintensif dulu sehingga perlu figure ayah untuk tetap hadir secara psikologis.

Figure ayah itu bisa dilakukan misal oleh paman, kakek atau yang lain. Intinya anak tersebut memiliki modelling dari laki-laki dewasa yang ada disekitar ibu, agar peran ayah dapat dipelajarinya dengan baik dari orang-orang terdekatnya dan bukan belajar dari lingkungan yang justru negatif.

Perlu disadari oleh semua lapisan masyarakat, bahwasannya memori ingatan anak berasal dari 60% tindakan, dan 40% dan mendengarkan. Ketika si anak yang sering kali mendapatkan justifikasi buruk sebab ibunya seorang janda terlebih lagi mendapat tindakan yang buruk pula bisa dibayangkan sendiri betapa penuh memori buruk yang diterima si anak ini.

Akibatnya, bukan tidak mungkin si anak akan membenci sosok ibunya, si anak menjadi pemurung dan enggan untuk sekolah, bahkan anak akan memutuskan untuk bunuh diri karena malu. Namun hal ini yang tidak disadari oleh masyarakat sekarang.

Mengapa harus wanita? Mengapa harus janda?

Sedangkan laki-laki? Mengapa mereka tidak dibebankan oleh stigma bodoh itu pula?

Betapa banyak akibat yang berdampak kepada anak yang disebabkan oleh stigma masyarakat mengenai status janda yang dilabel sebagai status yang hina ini.

Jika si anak kurang perhatian dan dukungan si ibu dalam menghadapi stigma-stigma itu maka sama saja dengan menciptakan monster baru.

Dimana si anak akan menjadi orang yang juga akan sepemikiran dengan masyarakat disekitarnya, akan menjadi keras jika berumah tangga, itu semua tidak akan menutup kemungkinan pasti terjadi. Namun, ketika kedua orang tua dapat memenuhi kebutuhan psikologi anak dengan baik, dan selalu siap mendengarkan curhat si anak maka apapun yang anak dapatkan.

Dengar dan lihat dari masyarakat yang buruk maka secara otomatis hal-hal buruk itu akan ter blacklist dari alam bawah sadarnya sehingga tidak akan ia lakukan karena ia tahu jika itu sebuah kesalahan.

Dasar Catatan Penulis Artikel : Siti Nur Indah Sari.

Motif : Memberikan advokasi untuk anak-anak yang tinggal dengan ibu yang berstatus single mom (janda)

Audiens : Jenis Kelamin : Unisex

Usia : 12 tahun ke atas

Tingkat Pendidikan : SMP ke atas

Tingkat Ekonomi : Tidak Terbatas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed