34 views
oleh

Keadaan Psikis Masyarakat Hadapi New Normal Era Covid-19

Artikel ini di tulis oleh :

Reeza Juwita

Abstrak :

Suatu kebijakan tidak mungkin ditetapkan dengan mudah jika menyangkut hajat orang banyak, apalagi negara yang identik dengan berpulau-pulau ini.

Kebijakan-kebijakan besar untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 ini telah dilakukan pemerintah dengan mengerahkan semua tenaga. Tiga bulan telah PSBB telah dilalui dengan penuh suka cita, saling menyemangati ketika di rumah aja.

Kini, hangat dengan new normal suatu kebijakan yang dilakukan demi roda perekonomian yang telah melilit negara ini, sehingga masyarakat harus berdampingan dengan COVID-19 tanpa meninggalkan prosedur dalam berperilaku hidup bersih dan sehat demi keselamatan dan keamanan diri sendiri dan orang lain.

Namun, keadaan psikisi masyarakat akan terpengaruhi karena itu persiapan mental penting dilakukan untuk menerima realita bahwa perubahan sedang terjadi di depan mata.

Adapun keadaan psikis masyarakat yang terjadi bak traffuc lights, yang tetap stay di rumah saja, menerima dan melakukan yang terbaik, serta bersikap bebas dan merasa sudah kembali dalam keadaan normal.

Kata Kunci : Psikis Masyarakat, New Normal, Era Covid-19

Pendahuluan Masih dalam gerbong yang tidak stabil, kurva itu masih menemani Indonesia dengan pandemi yang urung untuk lepas dari tanah dengan sejuta keramahannya ini.

Virus covid-19 masih senantiasa memperkenakan masyarakat Indonesia yang hampir tiga bulan lamanya dalam pertama kalinya bahwa berjarak berarti menjaga.

Segala upaya pencegahan telah dilakukan, tinggal bagaimana setiap individu menerapkannya. Harapan besar untuk segera mengucapkan selamat tinggal kepada pandemi ini terus diundur tanggalnya. Bukan karena masyarakat yang tak rela atau pemerintah yang berhenti beroperasi, atau bahkan virus nya yang enggan pergi. Kini masih menjadi koreksi dalam diri masing-masing.

Beragam keadaan masyarakat Indonesia dalam menyikapi pandemi ini. Dan tidak sedikit yang rindu akan keadaan normal sebelum semua kegiatan terhenti. Dalam segala segi bidang, anak-anak pergi sekolah, ayah yang berangkat kerja dan ibu yang pergi kepasar, bertegur sapa dengan tetangga ditambah bumbu ngerumpi.

Siapa yang tidak rindu dan kembali ke masa itu, tiga bulan lamanya sekolah daring dan work from home (wfh) dilaksanakan untuk membantu menyelesaikan pandemi ini dengan segera.

Bukan hal yang tidak mungkin bahwa masyarakat harus menyesuaikan dirinya di keadaan yang serba digital ini menjadi sebuah keharusan. Tetap stay safe dan tidak panik menjadi acuan dalam menjaga imun tubuh agar tetap sehat. Kaget atau syok dengan keadaan yang dihadapinya bukan menjadi hal yang tidak wajar. Dukungan dan semangat serta kemauan belajar akan menerima keadaan menjadi nilai plus di keadaan pandemi ini.

Bermula dari penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga yang sedang hangat kini yang dikenal dengan istilah New Normal.

Beberapa penekanan bahwa new normal akan diterapkan apabila masyarakat sudah dapat menerapkan apa-apa yang telah ditetapkan selama PSBB berlangsung, dengan penambahan peraturan-peraturan yang lainnya. Bukan hal yang mudah untuk segenap jajaran stakeholder maupun masyarkat menetapkan new normal ini.

Karena, seperti merubah dan menambah apa yang harus dijadikan kebiasaan di kehidupan sehari-hari terdahulu yang jarang dilakukan atau bahkan belum pernah dilakukan sama sekali, kini harus bertambah di memories list kebiasaan kita, yang mana hal itu pasti akan berpengaruh dengan kesehatan mental masyarakat (community mental health) yang akan menjalani kebijakan tersebut.

Pembahasan Seluruh tenaga dikerahkan pemerintah untuk dapat memutus rantai penyebaran virus yang viral dari awal tahun 2020 ini.

Mulai dari tahap preventif yaitu langkah pencegahan yang meliputi selalu menggunakan masker, cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir minimal 20 detik atau gunakan handsanitizer bila sabun dan air mengalir tidak tersedia, menerapkan etika batuk dan bersin di tempat umum, menjaga imun tubuh, makan makanan yang bergizi dan bersih, menjaga pola tidur dan olahraga teratur serta menerapkan social distancing ataupun physical distancing yaitu menjaga jarak 1-2 meter antar individu dan tidak berkerumun. Selanjutnya, program pemerintah yang besar dengan hastag booming di seluruh media sosial yaitu #dirumahaja.

Hal muncul karena diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di daerah-daerah tertentu dengan menyandang zona merah.
Munculnya PSBB berdampak pada aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan serta kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Sebagaimana hal tersebut termaktub dalam Permenkes RI No. 9 tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) bahwa Pelaksanaan PSBB dimaksud sebagi berikut.

Dalam Pasal 13 ayat (1) meliputi: a. peliburan sekolah dan tempat kerja; b. pembatasan kegiatan keagamaan; c. pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum; d. pembatasan kegiatan sosial dan budaya; e. pembatasan moda transportasi; dan f. pembatasan kegiatan lainnya khusu terkait aspek pertahanan dan keamanan.

Bukan hal yang tidak bisa di toleri, karena pada nyatanya PSBB membuat beberapa kebiasaan harus diubah. Seperti paradigma lama “merubah diri kita sesuai dengan lingkungan”.

Dengan berjarak menjadi strategi menjaga antara satu dengan yang lainnya. Namun setelah satu per empat tahun lamanya program itu dilakukan kini program yang lain berharap lebih efektif untuk mengadapi pandemi ini “New Normal”.

Apa itu new normal? Istilah asing yang masih terasa hangat di masyarakat seperti traffic lights penyambutan diri yang berbeda-beda.

New Normal adalah langkah yang dijalankan percepatan penanganan COVID-19 dengan mempertimbangkan kesiapan daerah dan hasil riset epidemiologis di wilayah terkait dalam bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Dikutip dari detiknews, ahli bahasa Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat dari Universitas Indonesia (UI) mengungkapkan bahwa “Badan bahasa sudah memberikan istilah Indonesianya yaitu Kenormalan Baru. Kata Normal sebetulnya dalam bahasa Inggris sudah dijadikan nomina makanya jadi New Normal. Badan bahasa kemudian membuat padanannya menjadi Kenormalan. Karena, kalau normal itu adjektiva kata sifat, jadi Kenormalan Baru”.

Menurut LaBarre tahun 2003 mengulas pendapat Roger McNamee, bahwa new normal selalu akan terjadi di sepanjang kehidupan manusia. Oleh karenanya manusia harus secara sabar belajar dan terus beradaptasi untuk mengembangkan respon yang tepat dalam mengahadapi tuntutan perubahan yang terjadi. McNamee menambahkan, pengertian “normal” dari new normal berkaitan dengan sjala waktu, dimana manusia akan berupaya mengembangkan perilaku yang sesuai untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik dalam jangka panjang. Sedangkan pengertian “new” dari new normal erat kaitannya dengan perkembangan teknologi.

Sedangkan menurut Hongyue dan Rajib, dampak pandemik terhadap perekonomian, sosial, keamanan, serta politik akan mempengaruhi kondisi psikologis dan perubahan perilaku yang sifatnya lebih luas dalam jangka waktu yang lebih panjang. Sehingga new normal adalah kenormalan baru berupa perilaku penyesuaian diri yang tepat dalam mengahadapi tuntutan perubahan yang terjadi untuk jangka waktu yang panjang yang akan mempengaruhi kondisi psikologis.

Di dalam new normal hal-hal yang terkesan tidak normal atau belum menjadi kebiasaan menjadi kenormalan baru akibat situasi-situasi tersebut. Terlepas dari makan istilah new normal, merupakan keniscayaan bahwa kita sedang mempraktekkan perilaku yang tidak biasa kita lakukan sebelum era COVID-19. Karena perilaku yang kita praktekan ini tidak hanya berupa respon jangka pendek terhadap wabah COVID-19 tetapi lebih luas lagi merupakan respon adaptif yang berjangka panjang. Perilaku-perilaku tersebut adalah upaya-upaya preventif yang telah dipaparkan sebelumnya.

Namun, sebelum diterapkan new normal disuatu daerah, adanya persyaratan dari tim pakar Gugus Tugas Pusat Percepatan Penanganan COVID-19 harus berdasarkan 3 kriteria pendekatan yang digunakan diantaranya: 1) kondisi epidemiologi daerah; 2) Surveilans kesehatan masyarakat; dan 3) pelayanan kesehatan yang harus dipenuhi kabupaten/kota.

Setiap individu memang berbeda-beda, bagaimana menyikapi PSBB yang tergantikan dengan new normal, karena hal ini diberlakukan bukan tidak ada alasan.

New normal dilakukan untuk menggerakkan roda perekonomian yang selama ini tertahan karena kebijakan PSBB. Seperti pemerintah seakan akan melangkah untuk mengibarkan bendera putih, menetapkan kita untuk berdamai dengan COVID-19, dengan kebiasaan kita harus menyesuaikan dengan kenormalan yang baru.

Definisi penyesuain sendiri diungkap Duffy dan Atwater sebagai “proses psikososial, dimana individu berperan dalam mengelola tuntutan hidup sehari-hari dengan memodifikasi diri atau memodifikasi lingkungan.”

Lalu apakah kepanikan kini tergantikan oleh rasa free to go?. Hendaknya hal ini dapat disikapi masyarakat dengan baik dan benar bukan. Persiapan mental penting dilakukan untuk menerima realita bahwa perubahan sedang terjadi di depan mata. Hadirnya New normal seperti traffic lights of psychological state of society, jadi yang dimaksud adalah ada 3 sikap psikis yang muncul di masyarakat dalam menghadapi new normal seperti lampu lalu lintas, merah, kuning dan hijau.

Lampu merah menandakan bahwa masyarakat ini tidak serta merta menerima langsung kebijakan new normal. Sebagian masyarakat ini memiliki rasa kehati-hatian yang tinggi.

Sebagian dari Mereka, memilih untuk tetap di rumah saja karena rasa cemas dan kekhawatiran untuk keluar rumah masih ada, walaupun mereka telah melakukan prosedur pencegahan penyebaran COVID-19.

Namun mereka sadar, new normal bukanlah normal sampai ditemukannya vaksin untuk pandemi ini. Masyarakat ini menunggu sampai keadaan benar-benar normal bukan normal yang baru.

Kemudian lampu kuning, dapat dikatakan bahwa masyarakat yang berada di lampu kuning adalah masyarakat yang 50:50. Sebagian masyarakat ini keluar rumah bukan untuk merasakan kebebasan dari PSBB. Mereka pergi ke mallatau pusat belanja karena mereka membutuhkan sesuatu yang mendesak, mencari sesuatu yang benar-benar penting, bukan sengaja untuk jalan-jalan atau refreshing pasca di rumah aja. Mereka yang terpaksa keluar rumah untuk bekerja namun melarang anak-anaknya untuk keluar rumah.

Dan lampu hijau, masyarakat ini menyambut new normal sebagai sesuatu yang diharapkan kembali lagi.

Sebagian masyarakat yang telah membuat list perencanaan yang tertunda bahkan sebelum new normal ditetapkan di daerahnya.

Mereka yang menerima tanpa menyaring lebih rinci lagi apa itu new normal yang sebenarnya. “so happy for new normal” begitu ungkapan sarkasnya.

Penutupan :

Perubahan kebijakan bukan semena-mena ditetapkan oleh pemerintah. Keputusan untuk hidup berdampingan dengan COVID-19 tanpa melepaskan prosedur kesehatan dan keamanan merupakan proses bertahan hidup yang harus dirangkul bersama-sama.

Era new normal kini didepan mata, sebanyak 102 daerah diizinkan untuk melakukannya karena berada pada zona hijau. Kenormalan baru bukan berarti mudah, kesiapan mental untuk mengahadapi era yang baru membutuhkan semangat antara yang satu dengan yang lain.

Memakai masker menjadi suatu kenormalan dan sebaliknya yang tidak mengenakannya menjadi aneh dan ter-judge orang yang egois dan bebal. Maka, tidak mungkin hal itu tidak berpengaruh pada kondisi psikis masyarakat dalam mengawali new normal, tetap waspada, menerima dan menjalaninya dengan baik, atau bersikap semua sudah baik-baik saja dan kembali seperti biasa.

Daftar Pustaka :

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. “Materi Edukasi Masyarakat Umum: Pendekatan dan Indikator Daerah Siap Adaptasi Kebiasaan Baru.” Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, 2020.
https://covid19.go.id/edukasi/masyarakat-umum/pendekatan-dan-indikator-daerah-siap-adaptasi-kebiasaan-baru.

Henndy Ginting. “Tulisan Edukasi HIMPSI di Masa Pandemi COVID-19-seri 14 : Perubahan Perilaku Sebagai Respon Terhadap Wabah COVID-19.” HIMPSI – Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, t.t.

https://covid19.go.id/edukasi/masyarakat-umum/perubahan-perilaku-sebagai-respon-terhadap-wabah-covid-19.

Kartika Sari Dewi. Buku Ajar: Kesehatan Mental. Semarang: UPT UNDIP Press Semarang, 2012.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2020, Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penangan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) § (2020).
http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__9_Th_2020_ttg_Pedoman_Pembatasan_Sosial_Berskala_Besar_Dalam_Penanganan_COVID-19.pdf.

Rosmha Widiyani. “Tentang New Normal di Indonesia: Arti, Fakta dan Kesiapan Daerah.” detikNews. Mei 2020.
https://news.detik.com/berita/d-5034719/tentang-new-normal-di-indonesia-arti-fakta-dan-kesiapan-daerah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed